REFLEKSI TERHADAP KEHIDUPAN UMAT KAITAN DENGAN PENDIDIKAN
Adalah suatu hal yang sangat istimewa apabila setiap individu ingin melakukan refleksi atas setiap hal yang dihadapi, dilihat, didengar, maupun yang dialami. Kemampuan berefleksi dibutuhkan oleh setiap orang dan seharusnya anak yang berstatus sebagai pebelajar perlu dilatihkan bagaimana melakukan refleksi.
Proses refleksi akan membantu kita melihat keberhasilan kita, kekuatan kita, dan melihat kelemahan apa yang perlu diperbaiki, bahkan merencanakan atau merumuskan tindakan-tindakan perbaikan. Dalam proses refleksi, kita harus berani mengajukan sejumlah pertanyaan dan berlapang dada mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Pertanyaan tersebut antara lain: (1) Mengapa saya mau sekolah di UNESA, atau di Australia dan hasil apa yang selama ini saya raih? Perubahan positif apa yang telah terjadi pada diri saya dalam seminggu ini atau bahkan dalam sejam ini, dan perubahan negatif apa? Mengapa kondisi Indonesia semakin rapuh? Sejauh mana peran saya dalam membangun umat ini? Hal apa yang perlu saya lakukan kaitannya dengan status saya sebagai pelajar?, dan masih banyak lagi pertanyaan yang sangat penting untuk dicermati.
Refleksi dengan pendekatan ilahi mungkin akan berimplikasi pada eksistensi bibir kita yang selalu dihiasi oleh dzikir, beristigfar dan menyatakan secara secara jujur tak ada daya dan kekuatan yang saya miliki kecuali dari Engkau Ya Allah dan akibat lainnya adalah kita akan selalu merasa ada ketergantuangan pada Yang Maha Berkuasa dan dapat menjaga diri kita dari sikap yang sangat dilaknat oleh Allah, yaitu sikap sombong.
Berbagai Fenomena yang Menyedihkan
Marilah kita sejenak membicarakan beberapa fenomena yang mungkin cukup menyesakkan dada tanpa harus menunjuk siapa yang harus bertanggung jawab atas fenomena tersebut.
Berkaitan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang sangat memburuk, meskipun kita bukan ahli ekonom atau pengamat profesional terhadap perekonomian, tetapi sebagai masyarakat awam kita dapat merasakan dampak krisis ekonomi yang tak kunjung berakhir. Apakah semua penduduk di Indonesia merasakannya? Persoalannya adalah tidak semua, bahkan sebagian penduduk Indonesia “notabene semakin menikmatinya”. Istilah yang tepat adalah jurang pemisah antara sikaya dan simiskin terlalu jauh.
Apakah mungkin karena sumber daya alam kita terbatas? Tidak. Wilayah hutan tropis Indonesia terluas ketiga di dunia dengan cadangan minyak, gas alam, emas, tembaga, dan mineral lainnya. Kepulauan Indonesia yang terdiri dari 17.000 pulau kaya dengan Flora dan fauna. Indonesia memiliki kawasan hutan hujan tropis yang terbesar di Asia-Pasifik, yaitu diperkirakan 1.148.400 kilometer persegi. Hutan Indonesia termasuk yang paling kaya keanekaragaman hayati di dunia, hutan yang paling kaya akan species palm (447, 225 diantaranya tidak ditemukan di bagian dunia yang lain), terkaya dengan mamalia, ketiga terkaya di dunia dengan reptil, keempat terkaya dengan burung, dan lain-lain.
Potensi alam Indonesia sangat besar, tetapi mengapa negara kita miskin? Ada apa di balik pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Mengapa dengan potensi yang amat besar itu, negara Indonesia justru semakin terlilit utang luarnegeri yang telah menenggelamkan bangsa Indonesia dalam krisis multidimensional yang berkepanjangan. Bisa dipastikan adalah karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, yang hanya memikirkan kenikmatan sesaat dan tidak peduli dengan akibat yang ditanggung oleh orang lain. Tidak dapat ditutupi bahwa berbagai persoalan krusial ini terjadi akibat tidak diterapkan aturan yang benar dan tidak tegaknya aturan main yang benar.
Apa yang Mungkin Salah dalam Pendidikan Kita?
Sebagaimana yang telah saya kemukakan dalam suatu Forum Dialog Muslimah bahwa meskipun tidak ada Sekolah atau Universitas Tiran dan tidak ditemui adanya Institut Konglomerat, tapi toh nyatanya kita punya persediaan tiran yang tidak pernah habis dan stok juragan besar yang berlimpah ruah, itu pun belum terhitung para asisten tiran dan asisten juragan. Kita tidak pernah melihat sekolah dengan kurikulum yang mengajar siswa mencuri, membuat kerusuhan atau kekacauan, tetapi mengapa kita selalu membaca di koran atau mendengar di radio, bahkan menonton tayangan TV tentang berbagai macam kejahatan yang dilakukan oleh anak muda, antara lain perkelahian massal antar pelajar, permintaan aborsi dari kaum pemudi, dan merebaknya wabah ectasy. Dan yang lebih fatal lagi karena anak muda yang melakoninya konon adalah “produk pendidikan”.
