New Times requires new ways of dealing with increasing amounts of information, and new ways of transforming information into knowledge. Teachers necessarily play a key role in these processes. The promise of new times for learners is that technology may provide new pathways for successful learning.

  Welcome to my site - Sitti Maesuri Patahuddin  

Wednesday, December 06, 2006

New School of Thought

Professor David Perkins dalam majalah 'The national Education Magazine TEACHER (Nov 2006), mengatakan:
Education need to embrace radical, new and unconventional approaches to deeper teaching and learning for understanding if we want students to be equipped to flourish in an ever-more complicated worl.

Saya tertarik sekali dengan tantangan yang diajukan oleh Prof David dalam tulisan ini untuk memahami apa sebenarnya pemahaman tsb. Tiga pertanyaan yang perlu di jawab:
  1. Apakah contoh dari sesuatu yang Anda benar-benar pahami?
  2. Bagaimana prosesnya sehingga Anda bisa sampai pada pemahaman tersebut?
  3. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda benar-benar memahaminya.

Wah, ini tugas yang menarik untuk dikerjakan setiap hari. Refleksi tentang pemahaman dan proses memahaminya.

Teaching for understanding (Click ini)

Perkins menjelaskan bahwa bagaimana cara menghindarkan diri dari mengajar siswa tentang sesuatu atau bagaimana cara mengajar siswa sehingga mereka bisa mencapai pemahaman?

Ada 4 pertanyaan yg perlu dijawab oleh guru:

  1. What do you want learners to understand?
  2. What do you want your learners to understand abou the topic?
  3. What will the learners do to come to understand the topic?
  4. How will you know how well the learners are understanding - how will they know?

Dijelaskan juga dalam tulisan ini bahwa guru perlu menetapkan topik2 atau sub topik apa yang perlu dipahami pada hari ini, dalam minggu ini, dalam bulan ini, dalam semester ini. Semua harus dijelaskan kepada siswa. Hal ini bukan suatu rahasia bagi guru.

Nah ini dia yang sering guru keliru. Mereka tidak menyampaikan kepada muridnya apa yang akan dipelajari besok atau minggu depan. Guru mungkin takut kalau siswanya menjadi lebih tahu ya.

Menurut saya, guru memberi tahukan apa yang akan dipelajari di sekolah adalah hal yang semakin bersifat umum. Tetapi hal yang masih sering kurang adalah pertanyaan point 3 dan 4 di atas.

Saya kira, selaku guru, kita perlu waktu untuk duduk menyendiri, menghentikan aktivitas lain untuk memikirkan:

apa sih sebenarnya yang terlalu patut atau sangat penting dipahami oleh siswa kita (Mengapa penting?). Juga mempertanyakan cara-cara yg bisa dilakukan sehingga siswa kita benar-benar paham. Apa sih indikator2 yang kita pakai untuk menilai bahwa siswa kita paham. Misalkan saja 'penjumlahan pecahan'

  • mengapa sih anak perlu belajar dan paham tentang pecahan? Apaperlunya?
  • Setelah kita yakin bahwa memahami konsep pecahan itu penting, lantas langkah-langkah apa sih yang perlu dikerjakan oleh anak kita untuk bisa memahami pecahan
  • Dan apa indikator yg kita pakai untuk mengatakan bahwa anak kita telah paham ttg pecahan.
  • Saya jadi teringat nih pertanyaan yg saya ajukan kepada mahasiswa S1 di perguruan tinggi saya. 'Mengapa pada penjumlahan pecahan, jika penyebut-penyebutnya sama, maka pembilangnya dijumlahkan sedangkan penyebutya tetap.' Misalnya 2/5 + 1/5 = (2+1)/5'. jawaban si calon guru ini adalah karena emang begitu aturannya. Rumusnya sudah begitu.
  • Contoh di atas menunjukkan bahwa si calon guru tsb belum pahan tentang pecahan dan penjumlahan pecahan. Ini sekaligus menggambarkan bahwa pengajaran matematika yang dialaminya mulai dari SD hingga SMA adalah pengajaran yg tidak bertujuan membangun pemahaman. It is not a 'teaching for understanding'

Additional notes:

Dalam majalah ini saya juga menikmati tulisan tentang National Curriculum, Keinginan dari pihak Pemerintah Australia untuk menerapkan Kurikulum Nasional, yang ditentang oleh para petinggi-petinggi dari negara-negara bagian Australia. Saya jadi tersenyum-senyum membacanya apalagi karena mengingat bagaimana kritik yang gencar di Indonesia, yang tidak setuju dengan kurikulum Nasional.

Saya dengar bahwa cukup banyak pihak yang khawatir di Australia dengan semau guenya sekolah/guru menerapkan kurikulum berdasarkan kebijakan-kebijakan sendiri.

Berikut adalah links yg saya dapat dimajalah ini:

http://www.pz.harvard.edu/

http://www.wideworld.gse.harvard.edu/

2 Comments:

Blogger Lia Hadiati said...

I do love teachers, I respect them all, but I'm not sure love teach, I love math ; count numbers than money (heeee). Assalam mu'alaikum bu Sitti..trims ditengokin aku ma wong jauhh....

6:10 PM

 
Blogger Sabri said...

Being a reflective teacher (lecturer) is something challenging. Taking to the account the current condition of the livelihood of Indonesian teachers in general, it will become a great shift for them to be able to set time aside for reflection on their daily professional practice.
What about lecturer? Is there something different for them compared to teachers?
To me, why I say that it is a challenging activity? In fact, according to my own experience, sitting for a while and looking back to what we have just done within the class is of very valuable. Of course, we have to be ready to meet some inconvenience when we re-think our teaching. It could be mistakes that we suddenly realize of performing it within the class, or others. Writing the results of the reflection is worth doing too. By so doing, it will always be easy for us to go back to it and take some important messages for the sake of the next practice to do. The problem is to what extent our readiness to admit that something might be performed imperfect in our practice. Moreover, for senior, experienced teachers, some, if not most, of them often think that there is no more to rectify in their practice, everything is in the right path. If any teacher writing reflection on their practice, they have nothing to express except their sorrow, sad or bad experience. Yeah, being critical is not an easy task, where we can see something (ourselves included) in a balanced, fair, comprehensive way.
In one of my subjects entitled The Problem of Mathematics Education, I try to assign the students to write about themselves in first person style focusing on for example, their philosophy of learning mathematics. They find it a very difficult task. However, as the time goes, some little improvement was evident in their writing along with the improvement of their learning philosophy. T close this no-direction comment, I would like to say that writing the self is important and I find that when I try to shape the writing about my self, I am unconsciously shape by the writing which I am trying to shape. This is to refer to the very enlightening work of Escher entitled Drawing Hands, 1948 Poster.

Kak, sorry for the long comment. Sabri.

4:40 AM

 

Post a Comment

<< Home