HARDIKNAS 2 Mei 2007: Mari Berefleksi
Para teman guru, mari berefleksi demi masa depan anak didik kita
Di tengah maraknya diskusi dan komentar tentang kelemahan-kelemahan sistem pendidikan dan pelaksanaannya di Indonesia, di tengah sibuknya orang bereaksi terhadap kebijakan dan isu sertifikasi guru serta kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), dan di tengah hebohnya pemberitaan ujian nasional, saya selaku pemerhati dan pencinta guru ingin mengajak para teman-teman guru untuk sejenak berhenti dan berfikir tentang perannya.
Kepada para teman guru, saya memahami situasi yang teman-teman sering hadapi di lapangan. Situasi yang kadang-kadang sangat membingungkan dan bahkan membuat stres. Saya memahami bahwa teman-teman guru sering merasa bingung dengan beragam kebijakan yang kadang-kadang berganti, meskipun hanya berganti istilah. Saya memahami bahwa betapa berat tuntutan yang teman-teman hadapi di lapangan, apalagi di tengah kebingungan dalam mamahami berbagai hal yang kelihatannya baru dan berat.
Saya memahami kompleksitas tugas teman-teman. Bayangkan, teman-teman menghadapi banyak siswa yang beragam perilaku dan kebutuhan. Teman-teman juga harus memahami bahan yang akan diajarkan dan bagaimana cara tepat untuk mengajarkannya. Pemahaman teori pengajaran yang teman-teman miliki bahkan sering tidak cukup dalam menyelesaikan masalah-masalah nyata di kelas atau di sekolah. Lebih stres lagi, ketika teman-teman telah bekerja keras dan lelah dan keberhasilan teman-teman guru hanya diukur dari hasil ujian nasional para siswa. Bukankah itu berat?
Kita harus mengakui bahwa tugas guru berat. Oleh karena itu kita harus menguatkan diri kita dan terus memperbaharui komitmen untuk mempersiapakn anak didik kita agar sukses di masa depannya. Allah Sang Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Kuasa menjadi saksi atas komitmen kita.
Izinkan saya menunjukkan beberapa kemungkinan efek pekerjaan teman-teman. Akibat dari pengajaran yang bagus dari kita, antara lain anak didik menjadi termotivasi dan tumbuh keinginantahuannya tentang sesuatu, terlatih berfikir kritis, melakukan pertimbangan yang cermat dan bijaksana dalam membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi kehidupan orang lain, terbangun kemampuan komunikasi dan kerjasamanya. Anak didik kita mungkin akan menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat dan bertanggung jawab di masa depan, atau bahkan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Hasil seperti ini mungkin tidak dinikmati oleh teman-teman guru sekarang, tetapi akan dinikmati oleh anak cucu kita.
Demikian sebaliknya, mungkin efek pengajaran kita yang jelek, pengajaran yang tidak bermakna akan berdampak negatif pada anak didik kita. Mereka menjadi tidak termotivasi, tidak melihat pentingnya sekolah, atau anak didik kita yang begitu potensial, justru menjadi terkubur potensinya akibat cara kita menghadapinya. Bayangkan apa yang terjadi di masa depan mereka. Mereka mungkin hanya mampu menjadi buruh kasar yang bergaji sangat rendah, atau menjadi korban ketidakadilan dan mereka tidak mengerti melawan ketidakadilan secara tepat, atau mereka akan menjadi obyek yang hanya bergantung pada orang lain karena tidak punya prinsip kemandirian, atau mungkin akan menjadi penghianat. Dan lebih celaka, jika dengan kebodohan dan ketidakjujuran yang mereka miliki, mereka secara kebetulan mendapat posisi penentu kebijakan, atau menjadi perwakilan rakyat banyak. Bayangkan, apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Teman-teman guru yang saya cintai, saya harus katakan, bahwa apa pun kebijakan pemerintah untuk memajukan pendidikan ini, berapapun dana yang dialokasikan untuk pendidikan kita, apa pun jenis pelatihan/workshop/seminar disiapkan buat guru, kualitas pembelajaran dan pengajaran yang terjadi di kelas ada di tangan para teman-teman guru.
Oleh karena itu, pada hari pendidikan ini, berilah waktu pada diri teman untuk berefleksi. Memeriksa dan mempertanyakan kualitas pengajaran kita akan jauh lebih bermakna dibandingkan mengikuti upacara bendera tanpa mencoba memahami apa makna dari hari pendidikan nasional.
Kita harus menyadari bahwa semua anak didik penting untuk mendapat kesempatan memaksimalkan kemampuannya. Mari memperbaharui komitmen kita untuk memberikan pendidikan yang terbaik pada anak didik kita demi menyiapkan mereka untuk kehidupan masa depannya. Mereka belum mengerti corak masa depan mereka dan kitalah yang perlu ikut bertanggung jawab. Kemampuan sebatas bisa membaca, menulis, atau berhitung tidak lagi cukup dalam era baru ini.
Pembelajaran di kelas dengan mata pelajaran apa pun, seharusnya dapat membantu anak didik belajar tentang pentingnya akan akan hal yang mereka pelajari. Bantu anak didik kita merasakan pentingnya kerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, mengharagai orang lain, dan lain-lain. Semua ini tidak bisa terwujud jika teman-teman guru hanya berceramah di depan kelas. Pengajaran yang baik harus melalui kegiatan yang direncanakan, dipertimbangkan secara matang, kegiatan yang melibatkan anak berfikir secara bermakna.
Para teman guru yang saya cintai, pembelajaran hanya terjadi ketika kita mau berfikir. Maka pikirkanlah apakah kehadiran teman-teman di kelas telah membuat setiap anak belajar? Membuat mereka memahami suatu hal yang baru? membuat perubahan tingkah laku ke arah yang positif? Apakah keberagaman kebutuhan anak di kelas telah terpenuhi? Apakah setiap individu yang mengikuti pembelajarn di kelas mendapat nilai tambah bagi diri mereka? Jika, dari perenungan ini teman-teman dapat berkesimpulan bahwa teman-teman tidak punya jaminan bahwa semua peserta didiknya di kelas belajar, maka teman-teman harus bertanya dan berusaha menjawabnya: bagaimana saya dapat mengetahui bahwa anak didik saya mendapat sesuatu tambahan pengetahuan dan pemahaman dalam setiap pertemuan di kelas? Tak lain adalah kita harus memahami secara mendalam materi yang kita ajarkan, harus ada komunikasi yang baikantara kita dan anak didik kita, harus ada kedekatan dengan mereka, dan harus ada strategi. Pandanglah diri teman-teman guru sebagai pebelajar. Kita belajar menjadi guru yang baik. Salah satu alat ampuh adalah belajar dari ruang kelas atau belajar dari anak didik kita, atau melalui komunikasi dengan teman guru lain, atau merenungkan pengajaran kita, atau bertanya kepada yang lebih ahli. Kunci keprofesionalan guru terletak pada keinginan yang kuat para guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Bukankah kita berharap agar siswa kita mau belajar keras. kita pun demikian. Guru sejati adalah pelajar yang sejati.

1 Comments:
refleksi yang sangat mengena bagi saya.
bolehkah saya mengutip beberapa kalimat dari tulisan ibu untuk di tempel di ruang guru di sekolah saya?
terima kasih
sofwan gozali
guru matematika smpn 1 jatigede sumedang
jawa barat
1:24 AM
Post a Comment
<< Home