Seminar bisa tak berarti apa-apa
Refleksi sebagai reaksi dari membaca maraknya seminar di Indonesia:
Kegiatan jangka pendek semacam seminar, workshop dll dipahami sebagai salah satu media peningkatan mutu pendidikan, atau peningkatan mutu pengajaran di kelas.Benarkah demikian?
Oleh sebagian peneliti atau pakar, kegiatan semacam ini kadang disebutnyasebagai kegiatan yang "artificial" yang lebih banyak membuang-buang waktu dan biaya tanpa ada jaminan bahwa mereka (para peserta seminar) kembali ke kelas mereka untuk membuat suatu perubahan.
Saya juga menyadari hal ini sejak dulu. Oleh karena itu, setiap diundang untuk bicara di seminar atau penataran, saya cukup lama berfikir, "pesan apa yang ingin saya sampaikan dan metode apa yang harus saya gunakan untuk menyampaikannya"
Kadang-kadang, saya pun merasakan ada efek dari metode yang saya gunakan, misalnya dengan didatangi oleh para guru dengan memberi komentar. Misal: "Oh saya baru paham ....", atau " saya menyadari bahwa ...." dll, dll atau sebagian guru menunjukkan keinginan tahuan atau bertanya banyak hal.
Saat itu saya gembira, tapi saat ini pun saya masih belum bisa yakin: apakah sesuatu yang diperoleh dari penataran, seminar, workshop dll bisa punya dampak perubahan positif di kelas?
Apalagi jika yang ngasih seminar adalah orang yang tidak paham atau tidak punya pengalaman mengajar di kelas. How?
Penelitian telah menunjukkan bahwa, apa yang diketahui, diinginkan, dicita-citakan belum tentu dapat diwujudkan di kelas, karena berbagai situasi lapangan.
Sekarang yang kadang-kadang membuat saya sedih karena semangat ikut seminar akibat ingin memperoleh sertifikat.Ini hal yang wajar bagi para guru karena mereka butuh sertifikat untuk(kira-kira) hidup lebih layak. Siapa yang salah? silahkan dijawab sendiri.
Saya telah melihat dan mendengar semangat guru untuk ikut seminar karena motif sertifikasi. Bahkan saya sudah dimintai sertifikat kosong oleh beberapa orang. Dengan hal ini, apakah ini berarti seminar akan efektif buat guru di Indonesia?
Sebagai pencinta guru dan pencinta anak bangsa, saya penuh harapan pada semua guru, untuk menyadari bahwa diri kalian (termasuk diri saya) yang punya "POWER" atau "KUASA" untuk melakukan perubahan di kelas. Meski ribuan seminar di luar sana, tapi yakinlah, kitalah para GURU yang punya posisi strategis untukmembuat sebuah perubahan.
Menurut saya, Esensi dari Program SERTIFIKASI adalah "professional development"atau pengembangan profesi guru. Dan esensi dari itu adalah "belajar"
Guru yang kita harapkan adalah guru yang mau secara terus menerus belajar. Tidak apa-apa seberapa kualitas kita sekarang, seberapa pun level kita. TIDAKAPA-APA. Yang utama adalah kita mau belajar.
Untuk belajar, kita harus beri ruang pada akal kita untuk berfikir dan jauh lebih hebat lagi jika terpadu dengan hati nurani untuk berbuat kebaikan.
Tiga hal yang berpengaruh pada pembelajaran guru: knowledge & beliefs, professional context, dan sources of assistance. Bantuan ide dari para pembicara seminar, belum tentu berhasil karena mungkin tidak/belum sesuai dengan tingkat pemahaman guru atau tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
GURU PERLU TERUS BELAJAR
Saya beri contoh praktis, jika Ibu atau Bapak guru meminta saya mengajar tentangKalkulus atau pecahan (yg lebih sederhana). Mungkin saat ini saya tidak tahu. Tidak apa-apa, yang penting dengan tugas itu saya mau belajar. Saya mau berfikir. Saya akan bertanya:
- Seberapa jauh sih kurikulum minta saya nyampaikan ini? Tidak hanya sampai disitu. Tapi kritislah, mengapa seperti itu? Hal apa saja yang harus diketahui oleh siswa kaitan dengan materi tersebut???
- Mengapa saya perlu ajarkan ini? apa pentingnya dalam kehidupan anak di masa depan?
- Gimana cara saya ngajarkannya agar mudah? Pertanyaan ini punya konsekwensi banyak, misalnya mengetahui apa yang telah dipahami oleh anak, apa kesenangan mereka (yang pasti berbeda), apa kesulitan mereka. Gimana sara saya mengasesnya? menilainya? mengetahui apa yang dia sudah pahami atau tidak pahami? Apakah dengan cara meminta mereka diskusi dan saya coba dengar baik-baik, apakah dengan mendorong mereka bertanya? apakah dengan dekatin dia saat lagi nyante? apakah minta ngasih mereka tugas presentasi, atau ngasih tes (yg bukan hanya jawaban benar atau salah) dll
- Tujuan moral apa yang harus kita bangun dalam pembelajaran kita? Bangsa kita terlalu terkebelakang, bangsa kita banyak yang tidak teratur dan tidak mengerti keteraturan, bangsa kita banyak yang tidak mengerti kebersihan dll. tidak tahu cara menghargai pendapat. Tidak tahu menjadi pendengar yang baik, tidak mengerti kejujuran, tidak tahu berbagi tugas dll. Nah, bagaimana caranya ketika saya misalnya mengajar matematika, dan sikap itu saya bangun pada diri anak-anak kita. Dll dll dll.
Bayangkan! betapa banyak hal yang perlu dipikirkan dan inilah maka diperlukan jiwa belajar pada tiap diri kita. Menghadiri seminar bahkan bisa berarti buang waktu atau buang kesempatan untuk mengajar, atau bahkan buang duit.
Di Brisbane, yang banyak saya temui adalah: guru menghadiri workshop, bukan karena butuh sertifikat, tetapi sebagai bagian dari program sekolah untuk peningkatan kualitas mereka. Atau sebagai keinginan untuk mengetahui sesuatu, untuk belajar langsung dari pakar, untuk belajar dari guru berpengalaman lainnya. Kita harus punya dedikasi pada anak kita, yang akan menghadapi kehidupan yang berubah-berubah di masa depan. Mereka butuh modal untuk bisa bertahan hidup atau hidup sukses di masa depan. Kita akan meninggal dan tidak tahu apa yang terjadi puluhan tahun ke depan. Tapi jika kita mampu berbuat sesuatu dan sesuatu itu menjadi modal bagi anak kita, maka itulah INTI dari AMAL JARIYAH. Artinya kita tidak harus kaya untuk bisa melakukan Amal Jariyah. Artinya, guru punya kesempatan luas untuk beramal jariyah.
Sebagai penutup, saya beri contoh the power dari seorang guru di kelas.
Anak saya yang datang ke Brisbane tanpa mengerti sama sekali bahasa Inggris. Masuk kelas 1 (usia hampir 5 tahun 3 bulan). Semula hanya belajar nulis kata. "I" dia tulias "AI" , "HOUSE" di tulis "HAUS" dst.Pada akhir kelas 1, dia sudah bisa menulis laporan investigasi lebih satu halaman dengan menggunakan kalimat sendiri. Dia sudah bisa ngarang macam-macam. Padahal sekalipun saya tidak pernah mengajarinya di rumah (Tidak ada PR kan). Bukti lainnya, setiba di rumah dia bisa menjelaskan apa yang dipelajarinya. Semua ini adalah the power dari guru yang kreatif.
Teman-teman guru, jangan katakan bahwa karena sekolah ini amat kaya fasilitas. Karena saya pun punya bukti, ketika dia di kelas 2, kemajuannya tidak seberapa. Bahkan anaknya bilang bosan. terlalu mudah, sudah pernah pelajari di Kelas 1 dll. Ini pun bukti lain: Siapa yang punya kuasa atau peran untuk membuat suatuperubahan positif/negatif pada siswa? Yaitu GURU.
Demikianlah hasil refleksi singkat saya. Semoga ada manfaatnya.

5 Comments:
Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is
9:26 AM
Mungkin ini adalah imbas dari sertifikasi yang mengutamakan adanya sertifikat di setiap kegiatan-kegiatan yang mendukung khususnya seminar. Jadi kebanyakan dari peserta seminar ini tidak mengutamakan apa yang diperolehnya nanti dalam seminar itu, tetapi yang lebih penting adalah sertifikatnya akan ada di tangan.
3:33 PM
Assalammualaikum
Ibu Sitti yang baik mohon ijin untuk mencuplik artikel ini di blog saya.
sekalian ijin juga, saya mentautkan alamat blog anda.
semoga beserta seluruh keluarga sehat di Brisbane. Amin
Agus Sampurno
www.gurukreatif.wordpress.com
5:20 PM
Thanks Chicha atas tanggapannya.
Buat Pak Agus, silahkan dimanfaatkan tulisan saya dan saya tidak keberatan bila blog saya mau ditautkan dengan blog Pak Agus.
12:37 PM
It needs time to improve our educational quality. Education is a system, and teacher is only one aspect of it. More over, seminar is a very small part of teacher professional development. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, seritifkasi bisa dilihat sebagai sebuah kemunduran juga kemajuan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sekarang, as researcher, as lecturer, as teacher, as member of community, peran apa yang mau kita ambil? ikut terlibat, ikut mengkritik, atau sibuk sendiri? .... Kritik dan segala masukan tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada real action. So, selamat berjuang untuk kemajuan bangsa!
2:41 PM
Post a Comment
<< Home