Ujian dan Nyontek
Rabu, 09 Januari 2009
Kini musim ujian. Tentunya ini adalah hari-hari yang sangat spesial. Mengapa? Hasil ujian menentukan kelulusan, menentukan indeks prestasi, dan mungkin menentukan masa depan (misal karena pekerjaan tertentu mensyaratkan IPK tertentu).
Seorang pelajar yang mungkin telah sungguh-sungguh belajar, TETAPI pada saat ujian kurang konsentrasi karena berbagai faktor misalnya, kurang tidur, sarapan yang kurang seimbang, lelah, atau dilanda sedih karena putus cinta dll.), maka pelajar ersebut bisa gagal dalam ujian. Apa akibatnya? Anda tentu bisa memperkirakan bukan?
Demikian pula sebaliknya, mahasiswa yang kurang belajar , lebih banyak bersantai atau bermain, kuliah asal-asalan, belajar dengan “sistem kebut semalam”, TETAPI karena kelihaian nyontek, maka hasil ujiannya menjadi bagus. Apakah ini yang dimaksud oleh slogan sebagian mahasisw: “posisi menentukan prestasi!”
So what?
Perilaku nyontek mahasiswa ini tampaknya disadari oleh paniti ujian di Jurusan Matematika FMIPA UNESA. Oleh karena itu, panitia memberlakukan sistem penomoran tempat duduk secara acak. Mahasiswa diminta mengambil nomor kursi secara acak sebelum ujian dimulai. Terima kasih panitia. Anda pasti telah menghabiskan banyak waktu untuk membuat kartu-kartu tersebut dan menempelkan kartu di ratusan kursi. I really appreciate your efforts?'J
Kenyataan: Nyontek tetap terjadi?
Nyontek tetap saja terjadi! Demikianlah kesimpulan saya. Apakah nyontek sudah menjadi budaya? Apakah nyontek sudah dipandang sebagai hal yang wajar? Jika iya, untuk apa sih ujian tersebut?
Marilah kita mencermati hal berikut.
1. Saat ini, nyontek di sekolah adalah hal yang kritis.
Seorang guru bercerita bahwa di tahun pertama mengajar, dia diminta oleh kepala sekolah menjawab soal ujian nasional untuk diberikan kepada siswa, supaya siswa-siswa sekolah tersebut bisa lulus semuanya. Di tahun berikutnya, karena pengawasan ujian nasional semakin ketat, maka sekolah si guru tersebut meminta semua siswa membawa handphone (HP), dan jawaban ujian dikirim ke HP masing-masing siswa.
2. Belum lama ini saya menerima sms dari seorang guru lainnya sbb.
“Bgm cara mmulai,agar nilai siswa, murni hsl kerjanya? Skrg ada cara guru mmasang siswa pintar tiap ruangan & siswa itu yg mberi jwbn sm temannya saat ujian. Sy tdk bisa berbuat apa2, org2 di sek brkata"cara ini paling aman dimana guru tdk trlibat mmbantu saat ujian". Pengawas ujian tdk trlalu ketat krn takut siswanya dibalas. (kasihan daerahku, putranya mrusak generasinya sendiri)”
Kedua kasus di atas menggambarkan ketidakberesan moral yang terjadi di sekolah yang notabene sebagai tempat untuk memanusiakan manusia!
Apakah budaya nyontek diperguruan tinggi ini adalah bawaan dari SMA atau SMP sebelumnya? Akankah ini menjadi sebuah lingkaran setan?
Pertanyaan yang urgen untuk dipikirkan, jika calon guru kita di UNESA (calon guru masa depan) juga sudah terjun dalam budaya nyontek, bagaimana nasib masa depan anak bangsa? Bukankah ini suatu tanda-tanda kehancuran masa depan? Bukankah ini mengindikasikan terpuruknya moral para pelaku-pelaku pendidikan?
Dibutuhkan jalan keluar
Terhadap kenyataan di atas, para pengajar di UNESA perlu mencermati/merenungkan kembali antara lain tentang:
· apa hakekat sebuah tes?
· apa pentingnya tes tersebut? Hanya salah satu contoh sebagai bahan pemikiran: di University of Queensland, salah satu Universitas ‘papan atas’ di Australia, saya sering mendengar adanya beberapa mata kuliah yang tidak ada tesnya, melainkan “assignment”, berupa penugasan yang lumayan membuat mereka lembur berhari-hari bahkan mungkin berminggu-minggu untuk mencari literatur yang relevan, mengkaji berbagai macam literatur, dan menuliskan laporannya atau juga mempresentasikan hasil karyanya. Melalui cara ini, para dosen dapat memberi penilaian yang lebih otentik. Ini bukan berarti bahwa saya mengklaim tes tertulis tidak diperlukan lho.
· butir-butir tes yang diujikan kepada mahasiswa. Apakah tes tersebut terlalu menguji hafalan? Menurut hemat saya, dalam era digital ini, bukan saatnya untuk menekankan hafalan, atau pun mengujikan hafalan. Yang diperlukan adalah menguji pemahaman, analisis, aplikasi, evaluasi, komunikasi, pemecahan masalah, dan lain-lain.
· Apakah butir tes kita hanya menghendaki satu jawaban benar? Bukankah kita bisa mengkonstruksi soal dengan jawaban yang berbeda-beda dan mengarahkan mereka menunjukkan logika berfikirnya terhadap jawaban yang mereka pikirkan?
Sebagai penutup, bagi para mahasiswa, mari kita membiasakan sifat jujur antara lain dengan menghindari nyontek. Sedangkan bagi para dosen, mari kita berbenah bersama dan terus mengantisipasi semoga nyontek TIDAK PERNAH MENJADI SEBUAH BUDAYA INDONESIA.

3 Comments:
kayaknya budaya itu dihalalkan oleh sistem, tatkala guru menerapkan penilaian proses, tetapi kenyataannya pada saat akhir pendidikan seorang siswa diperhadapkan dengan tes PG melalui Ujian Nasional...
10:18 PM
Saya coba search nama Maesuri, ternyata ada blog dengan nama itu, apa kakak adalah Adik dari Ibu Nurhaedah dosen UMPAR yang tinggal di Makassar. Mohon info alamat emailnya.
http://anrusmath.wordpress.com
Andi Rusdi
10:20 PM
nyontek itu ekstrak dari sikap mental curang..., juga sebagai akibat dari kemalasan.
sedih.
saya juga pernah menulis tentang praktek nyontek di Monash, yang sedihnya dilakukan oleh mahasiswa asal INdonesia di sini:
http://kalipaksi.wordpress.com/2007/06/21/menyontek-perilaku-yang-menyebalkan/
2:15 PM
Post a Comment
<< Home