New Times requires new ways of dealing with increasing amounts of information, and new ways of transforming information into knowledge. Teachers necessarily play a key role in these processes. The promise of new times for learners is that technology may provide new pathways for successful learning.

  Welcome to my site - Sitti Maesuri Patahuddin  

Friday, September 09, 2011

PLPG bisa tak berarti apa-apa


Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bisa tak berarti apa-apa jika program ini tidak memenuhi kriteria program pengembangan guru yang efektif antara lain (1) kolaboratif, (2) berorientasi pada kepentingan siswa, dan (3) memperdalam materi ajar dan cara pengajaran secara tepat.

PLPG adalah salah satu program pemerintah yang digariskan harus dapat memberikan jaminan terpenuhinya standar kompetensi guru (1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial (sumber buku pedoman PLPG 2011). Tahun 2011, sebanyak hampir 300.000 guru di seluruh Indonesia ditargetkan mengikuti PLPG dan kuota terbanyak adalah Jawa Timur yaitu 45.487 guru.

Terlepas dari berbagai permasalahan PLPG sebagai akibat kelemahan pengelolaan, guru-guru selaku peserta PLPG harus mengikuti pelatihan 90 jam. Ini biasanya dilaksanakan selama 2 minggu dengan jadwal pelatihan pagi hingga sore hari. Mereka mendapat beberapa materi berbeda yang biasanya dengan nara sumber berbeda setiap harinya. Syarat wajib nara sumber berdasarkan pedoman PLPG adalah dosen. Ini berarti, guru-guru yang mungkin jauh lebih berpengalaman dari dosen pun tidak berhak sebagai nara sumber dalam PLPG.

Berdasarkan pedoman sertifikasi, penyelenggaraan PLPG diakhiri dengan ujian meliputi ujian tulis dan ujian kinerja (praktik mengajar). Ujian tulis untuk mengungkap kompetensi profesional, sedangkan ujian kinerja untuk mengungkap kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Keempat kompetensi ini juga diharapkan dinilai selama proses pelatihan berlangsung.

Salah satu akibat dari kebijakan ini, peserta PLPG yang mungkin sudah berusia dan tidak selalu dalam kondisi prima, mendapat berbagai tugas yang menuntut mereka kerja lembur. Mungkin untuk setiap pelaksana PLPG tidak seragam, tetapi sebagai contoh Rayon Unesa mewajibkan guru menyiapkan sebanyak tiga Rencana Pelajaran yang dilengkapi dengan perangkatnya (misalnya media, lembar kerja siswa, lembar evaluasi, dan lain-lain) dan akan melakukan peer teaching atau praktek mengajar di depan guru-guru lain yang mungkin sedang agak panik menunggu giliran tetapi terpaksa harus berpura-pura menjadi siswa. Situasi ini lebih berefek pada kepanikan, kekhawatiran, dan bukan belajar secara lebih menyenangkan.

Pertanyaan serius: Mengapa pelaksanaan PLPG ini tidak efektif?

Program Pengembangan Guru harus kolaboratif
Situasi di atas tidak mencerminkan kolaborasi karena dosen selaku nara sumber dan penilai sedangkan guru sebagai obyek yang dinilai. Meskipun terdapat dosen yang bersikap kolaboratif dan berusaha memberi masukan secara santun, namun bobot kolaborasi tetap kurang memadai. Kolaborasi seharusnya semacam kontrak untuk mencapai suatu tujuan bersama, berkolaborasi untuk benar-benar mengkaji permasalahan nyata hingga merumuskan rencana-rencana strategis untuk menyelesaikan masalah, kemudian dilaksanakan untuk tujuan dan kemanfaatan bersama. Dengan prinsip kolaboratif ini, para dosen akan menjadi lebih profesional karena belajar permasalahan nyata di lapangan dan guru sendiri bisa terbantu dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.

Namun apa yang terjadi, tidak jarang kita mendengar ketegangan dan kepanikan guru, apalagi dalam waktu singkat, mereka mendengarkan model-model pembelajaran yang belum pernah didengarkan sebelumnya, cara-cara penilaian siswa yang tidak sederhana dan tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya di lapangan (karena penilaian yang berorientasi pada UNAS). Mereka pun dituntut mengemas teori-teori yang telah diajarkannya dalam suatu perangkat atau rancangan pembelajaran. Rancangan ini pun harus didemonstrasikan di depan guru-guru lainnya dan akan dinilai oleh dosen. Di mana letak kolaborasi di sini, jika dosen datang layaknya sebagai orang yang lebih pakar dalam pengajaran bidang tertentu, sedangkan guru datang sebagai obyek yang akan dinilai dan ditentukan nasib kelulusannya? Apakah ada jaminan si dosen tersebut bisa mengajar secara lebih baik sedangkan cara pengajaran dosen tersebut belum tentu pernah dievaluasi? 

Program Pengembangan Guru harus berorientasi pada siswa (student-oriented)
Cita-cita dasar meningkatkan kualitas guru adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa di kelas. Artinya, permasalahan pembelajaran yang dialami siswa seharusnya diatasi. Permasalahan ini bisa bermacam-macam antara lain kesulitan materi misalnya matematika, rendahnnya motivasi belajar siswa, kesulitan guru mengajarkan materi sehingga anak pun sulit memahaminya, dan lain-lain. Masalah tersebut perlu dikaji secara bersama dan informasi dari guru sangat berarti bagi dosen. Guru perlu dibantu mengidentifikasi letak permasalahannya, merefleksi segala tindakan yang telah diambilnya, dan secara bersama-sama mencari solusi. Solusi itu pun dikaji dan indikator perubahan kinerja siswa akan menjadi salah satu ukuran keberhasilan.

Dalam PLPG, para guru datang dengan permasalahan yang berbeda, dengan kondisi kelas, siswa dan sekolah yang juga berbeda-beda. Guru yang hanya dilatih dengan suatu metode baru dan telah tampil mengajar di hadapan teman-temannya dan telah mendapatkan kritik (semoga bukan kiritikan pedas!), mereka akan pulang di sekolahnya tanpa membawa perubahan dan dampak pada siswa-siswanya. Tidak jarang siswa bahkan menjadi korban karena telah ditinggalkan oleh gurunya mengikuti PLPG dan lebih celaka lagi ketika banyak guru dari sekolah tersebut mengikuti PLPG dalam waktu bersamaan. Bahkan mahasiswa juga kadang-kadang menjadi korban, karena dosen harus menjadi fasilitator di acara PLPG.

Program pengembangan guru untuk memantapkan materi ajar dan pengajarannya
Bukan rahasia, akibat latar belakang studi guru, atau perkembangan pembelajaran dan teknologi, guru harus mengajarkan sesuatu yang belum dia kuasai. Mereka pun dituntut mengajar dengan cara yang berbeda dari apa yang pernah dialaminya (misalnya, dahulunya dia lebih banyak dikuliahi/diceramahi).
Sebagai contoh di matematika, tidak jarang dosen mengeluhkan kelemahan matematika yang dimiliki oleh para guru hingga mereka ragu apakah guru ini layak lulus! Sebaliknya, tidak jarang pula mendengar komentar peserta bahwa dosen mengajarkan model-model pengajaran inovatif dengan cara tidak inovatif. Semua ini memberi keraguan bahwa proses belajar terjadi secara optimal.

Belajar atau memahami sesuatu memerlukan suasana hati menyenangkan, diperlukan waktu yang tidak singkat, dan metode yang mengakomodasi kemampuan peserta yang berbeda-beda. Artinya pengajaran secara seragam kurang dapat membantu guru tersebut belajar. Belajar akan efektif jika dia mempelajari yang dia butuhkan. Belajar dalam kondisi yang lelah dan dengan penuh kekhawatiran bisa tidak menghasilkan apa-apa

Tidak adanya ketiga karakteristik tersebut, maka PLPG yang menghabiskan anggaran yang cukup besar bisa saja hanya menjadi program yang berbasis proyek yang hanya hadir atas dasar keputusan politik yang berkaitan dengan penggunaan anggaran dana pendidikan secara tidak efisien, menguntungkan sejumlah pihak tetapi pada dasarnya tidak berkontribusi secara signifikan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Jika pemerintah serius mau meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui peningkatan mutu gurunya, pelaksanaan PLPG ini seharusnya dibarengi penelitian dengan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan ke publik. Sejauh mana efektivitas pelaksanaan PLPG? Sejauh mana pembelajaran PLPG berdampak pada kinerja guru, dan berdampak pada kualitas pembelajaran dan kinerja siswa? Bagaimana guru-guru tersebut mentransformasi pengetahuan mereka dalam kelas nyata? dan lain-lain.

Jika ini hanya dilaksanakan sebagai rutinitas penggunaan anggaran negara tanpa evalusi yang jelas dan transparan, PLPG tidak memberi harapan untuk perbaikan kualitas guru  atau kualitas pendidikan Indonesia. PLPG mungkin ada manfaat tetapi dibandingkan dengan biaya yang besar, ini bisa tidak berarti apa-apa.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home